Kisah Khalifah Abu Bakar As Shidiq (11 - 13 H)

Nama lengkap : Abdul Ka'bah bin 'Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Ta'lim bin Murrah
Lahir : 2 tahun sekian bulan setelah tahun gajah
Masa Jabatan : Sebagai khalifah selama 2 tahun, 3 bulan, 3 hari.
Dilantik dengan dua cara : Bai'at Saqifah (di tempat bani Sa'adah), Bai'at Al 'Ammah (di Masjid Nabawi)
Wafat :di Madinah, malam selasa, 23 Jumadil Akhir tahun 13 H pada usia 63 tahun, dimakamkan di sebelah makam Rasulullah.

Riwayat Abu Bakar  

Sejak mudanya ia telah terkenal dengan tinggi pekertinya dan perangai yang terpuji, ia pun mampu untuk menyediakan segala kebutuhan rumahnya dengan usahanya sendiri. Sebelum Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi dan Rasul, persahabatan mereka telah akrab. Tatkala Muhammad diangkat sebagai nabi dan rasul, ia adalah yang mula-mula mempercayainya. 

Rasulullah paling sayang dan cinta kepada sahabatnya itu, karena ia adalah sahabat yang setia dan hanya satu-satunya orang yang biasa diajak bermusyawarah pada waktu perjuangan melawan orang Quraisy. 

Keutamaannya adalah Abu Bakar merupakan sahabat yang setia kepada Rasulullah, dibuktikan ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, ia menemani perjalanan hijrah tersebut. Kemudian dikala Rasulullah sedang sakit, ia diperintahkan untuk menggantikan Rosulullah sebagai imam di masjid Nabawi. 

Setiap orang memiliki ciri khas yang dapat diingat oleh orang lain, Abu Bakar terkenal dengan kemauannya yang kuat, keras hati, pemaaf tapi rendah hati, dermawan dan cerdik dalam bertindak.

Dalam mengatur pemerintahannya, ia terkenal dengan semboyan keras tak dapat dipatahkan, lemah lembut tak dapat dibendung. Baginya hukum belum bisa dijatuhkan kepada terdakwa apabila pemeriksaan belum memuaskan hatinya, itulah sebabnya ia memerintahkan kepada wali-walinya di seluruh negeri supaya jangan tergesa-gesa dalam menjatuhkan hukuman. 

Meskipun kesulitan dalam hidup, ia tetap tidak pernah mengadukan permasalahannya kepada orang lain, sehingga banyak orang yang tidak tahu akan kesulitannya kecuali 'Umar bin Khattab yang selalu memperhatikannya setiap saat.

Baca juga : Dunia Sebelum Islam "Bangsa Arab"

Diangkat Menjadi Khalifah

Rosulullah memegang dua jabatan, pertama menyampaikan kewajiban sebagai seorang utusan Allah, yang kedua sebagai pemimpin umat Islam. Kewajiban yang pertama telah usai dikala beliau wafat, tetapi kewajiban yang kedua, menurut pertimbangan kaum muslimin ketika itu kepemimpinan perlu dilanjutkan karena suatu umat tidak dapat bersatu apabila tidak memiliki. pemimpin, sebab itu perlu ada penggantinya (khalifaturrasul) 

Pada saat Rasulullah masih disemayamkan dan belum dikebumikan, timbul dua pendapat : Pertama ialah menentukan _pangkat khalifah dari persukuan Rasulullah, yang menghendaki 'Ali bin Abi Thalib atau 'Abbas bin Abdul Muthalib. Pendapat kedua ialah pangkat khalifah hendaknya dari kalangan Anshar, mereka menghendaki dan mengajukan Sa'ad bin 'Ubadah.

Bai'at Saqifah

Setelah Rasulullah wafat, pemuka-pemuka Anshar berkumpul di sebuah balairung milik bani Sa'idah. Mereka terdiri dari bani 'Aus dan Khazraj mengemukakan Sa'ad bin 'Ubadah agar menjadi pengganti Rasulullah, disebabkan ia adalah orang yang paling tua dari pihak Anshar. Apalagi ia sendiri telah berpidato kepada kaum Anshar tentang keutamaan dan kemuliaan Anshar, terutama dalam membela Rasulullah dan mempertahakan Agama Islam, sehingga memperoleh gelar Anshar(pembela)

Berita permusyawarahan itu sampai ke telinga orang-orang Muhajirin seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Abu 'Ubaidah, mereka bergegas menuju tempat permusyawarahan itu, maka terjadilah perselisihan dan pertikaian diantara dua golongan itu-tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin umat-sehingga hampir terjadi perpecahan diantara umat Islam pada saat itu. 

Untunglah Abu Bakar segera berdiri dan berpidato menyatakan dengan alasan yang tepat, akurat dan cermat. Bahwa khalifah itu adalah hak orang Quraisy, dalam pidato itu ia mencalonkan Umar bin Khattab dan Abu 'Ubaidah akan tetapi keduanya menolak dan sebaliknya mereka berdua menunjuk dan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Rosulullah, sekaligus membai'atnya dan diikuti oleh para sahabat dari kedua golongan itu.

Bai'at Al'Ammah

Setelah dilantik di tempat bani Sa'idah, maka Abu Bakar dibai'at kembali di Masjid Nabawi oleh umat Islam. Pelantikan ini disetujui oleh para sahabat-sahabat Rasulullah SAW.

Hal-hal yang Dilakukan Abu Bakar Ketika Menjabat Sebagai Khalifah :

  1. Mengirim pasukan Usamah bin Ziad
    Sebelum wafat, Rasulullah SAW telah mempersiapkan pasukan yang akan dikirim ke negeri jajahan Romawi dengan menunjuk Usamah bin Ziad sebagai panglimanya. Ketika Rasulullah sakit pasukan itu terhenti di DzuKhasyah, setelah Rasul wafat Abu Bakar tetap memberangkatkan pasukan Usamah bin Ziad untuk menghancurkan negara-negara jajahan Romawi, Allah memberikan kemenangan.
  2. Menumpas orang-oranng Murtad dan Nabi Palsu
    Setelah Rasul wafat, timbullah pemberontakan-pemberontakan yang disebabkan oleh orang-orang yang murtad terhadap Islam. Maka Abu Bakar mengirim beberapa pasukan untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan tersebut dengan memberangkatkan 11 pasukan untuk menumpas nabi-nabi palsu, orang-orang murtad dan yang tidak mau membayar zakat.
  3. Menaklukan Iraq
    Memberangkatkan pasukan Khalid bin Walid ke Iraq bersama Mutsni bin Haritsah As-Syaibani, dan berhasil menaklukan beberapa negeri dan membawa harta rampasan perang.
  4. Menaklukan Syam
    Memberikan gagasan dan memprakasai penyerangan negeri-negeri jajahan romawi dengan menunjuk Abu 'Ubaidillah sebagai kepala Amir dari beberapa Amir yang diutus oleh khalifah. Setiap Abu Bakar memberangkatkan pasukan, beliau selalu berwasiat kepada mereka agar bertaqwa kepada Allah SWT, menjaga persahabatan dengan baik, menjaga shalat berjamaah, memperbaiki diri sendiri agar Allah membuat orang lain berbuat baik kepadanya. Dan menerima utusan dari musuh kepada mereka dengan mempersingkat pertemuan tersebut agar musuh tidak mengetahui keadaan dan kondisi mereka. 
    Sesampai di Yarmuk. pasukan tersebut melihat kekuatan musuh yang amat kuat, mereka menuliskan surat kepada khalifah Abu Bakar, maka khalifah menulis surat yang memerintahkan Khalid bin Walid untuk membawa pasukan dan berangkat ke Syam bergabung dengan Abu Ubaidillah. Kemudian terjadilah peperangan di Yarmuk yang dimenangkan oleh kaum Muslimin.
  5. Mengumpulkan Mushaf Al-Qur'an
    Setelah melihat banyaknya hufadz Al-Qur'an yang gugur, makan Umar bin Khattab memberikan usulan kepada Abu Bakar untuk menyusun lembaran Al-Qur'an yang berserakan, khalifah setuju dengan usulan Umar bin Khattab, kemudian beliau mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur'an dan menulisnya dengan menunjuk tim penulis:
    a. Zaid bin Tsabit
    b. Abdullah bin Zubair
    c. Sa'id bin Al'Ash
    d. Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam
    Setelah itu lembaran-lembaran tersebut diletakkan di rumah Abu Bakar, setelah itu di rumah Umar bin Khattab, kemudian diserahkan kepada Hafshoh.

Gelar-gelar Abu Bakar

  1. Ar-Rafiq (seorang sahabat karib)
  2. Ar-Raqiq (seorang yang berhati lembut)
  3. As-Syafiq (seorang yang sangat penuh kasih sayang)
  4. Ar-Rahiq (seorang yang tidak gentar di jalan Allah)
  5. As-Sabbaq (seorang yang siap untuk menghadapi musuh)
  6. Al-Atiq (seorang yang dilepasakan dari api neraka)
  7. Al-Watsik (seorang yang komitmen atas keputusan)
  8. Al-Amiq (seorang yang memiliki pemahaman yang dalam)
  9. As-Shidiq (seorang yang sangat mempercayai Rasulullah)
  10. Ad-Daqiq (seorang yang sangat teliti)
  11. As-Syuja' (seorang pemberani)

Ibrah yang dapat diambil dari Khalifah Abu Bakar

peristiwa-peristiwa yang terjadi Di zaman Abu Bakar menunjukkan beberapa hal dan prinsip, diantaranya :
  1.  Pemilihan Abu Bakar berdasarkan melalui permusyawarahan (Syuro). Semua Ahlu Halli wal 'Aqdi dari kalangan sahabat termasuk 'Ali bin Abi Thalib ikut serta dalam pengambilan keputusan ini. Hal ini menunjukkan bahwa dalam agama Islam tidak ada satu ayat atau pun hadits yang menegaskan hak khilafah terhadap seorang sepeninggal Rasulullah.
  2. Perbedaan pendapat yang terjadi di Saqifah Bani Sa'adah, adalah hal lumrah yang menjadi tuntutan dalam proses pengambilan keputusan. Musibah yang akan dihadapi oleh umat islam sangat besar dan persoalan pun akan semakin bertambah pelik apabila pada saat itu sahabat tidak menemukan satu pilihan untuk disepakati.
  3. Nasihat 'Ali yang melarang Abu Bakar untuk tidak iktu terjun memerangi kaum murtad, adalah satu tindakan dari seorang 'Ali yang menerima Abu Bakar sebagai khalifah. Jelas sudah, bahwa pangkat kekhalifahan bukan berdasarkan warisan dan peninggalan leluhurnya.
  4. Keputusan Abu Bakar terhadap kabilah-kabliah murtad dan memberantas nabi-nabi palsu, adalah suatu keputusan tepat, dapat menyakinkan para sahabat-sahabat yang semula tidak bersedia melakukannya.
  5. Wasiat Abu Bakar kepada 'Umar bin Khattab adalah sah, disebabkan sebelum mewasiatkan hal ini, Abu Bakar telah memusyawarahkan kepada sahabat-sahabatnya, dan sikap umat Islam yang Ridha akan keputusan tersebut.   

0 Response to "Kisah Khalifah Abu Bakar As Shidiq (11 - 13 H)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel