Kisah Khalifah Utsman bin Affan (23 - 35 H)
Nama Lengkap : Utsman bin Affan bin Abdi Syam bin Abdi Manaf
Lahir : 5 tahun setelah tahun gajah
Alasan diangkat : Menjadi khalifah, setelah adanya pemilihan umum (Ahlu Syura) yang dilaksanakan di Madinah.
Masa khilafah : Memerintah selama 13 tahun.
Wafat : Pada usia 83 tahun, dimakamkan di Madinah.
Riwayat Utsman bin Affan
Di zaman Rasulullah, ia pernah menjadi sekretaris, menuliskan wahyu dan di zaman Abu Bakar ia menjadi penasihat sekaligus sekretaris khalifah, dengan tugas menuliskan surat yang utama, dan mengumpulkan arsip surat-surat penting dan rahasia.
Ketika di Madinah kesukaran air, beliau membeli sebuah sumur yang banyak airnya bernama Bi’r Raumah, lalu sumur tersebut dihibahkan kepada umat Islam.
Utsman terkenal jujur dan saleh dalam agama, dia pernah menafkahkan sebagian besar harta bendanya untuk memajukan Islam. Dia mendapat julukan “Zun nur’ain wa hijratain” artinya yang mempunyai dua cahaya (disebabkan Utsman menikahi dua puteri Rasulullah SAW) dan dua kali hijrah yaitu ke Habsyi dan Madinah.
Diangkat Menjadi Khalifah
Utsman diangkat menjadi khalifah setelah menurut wasiat Umar yang menunjuk enam orang sahabatnya, yaitu : Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubeir bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdur Rohman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah. Yang disebut Ahlu Syuro. Utsman terpilih berdasarkan pemilihan suara terbanyak.
Baca Juga : Kisah Khalifah Umar bin Khattab (13 - 23 H)
Peperangan dan Penaklukan di zaman Utsman
Pada saat Utsman menjabat sebagai khalifah banyak negeri yang ditaklukannya. Armenia, Azerbaijan, Tabristan, jatuhnya kerajaan Sasania (Persia) ke tangan umat Islam untuk selama-lamanya ditandai dengan terbunuhnya Yazdajir, Kisra Persia terakhir.
Mendirikan pasukan armada laut dan diangkatlah Abdullah bin Qais sebagai panglima dengan sebutan Amir Albahar. Dari istilah itu lahirlah ‘Admiral’ yang dikenal dengan sebutan laksamana di dalam angkatan laut.
Negeri Armenia, dengan Salman bin Rabi’ah Alh Bahily sebagai panglima;
Negeri Tebristan, dengan penglimanya Sa’ad Al-Ash;
Afrika, Abdullah bin Sa’ad sebagai panglima;
Negeri Sabur, Usman bin Abil Ash Ats-tsaqofy;
Iskandariyah, Amr bin Ash sebagai panglima.
Siasat Utsman bin Affan
Dalam pemerintahannya tidak ada sifat tercela yang dapat dijadikan alasan untuk mendendamnya. Bahkan beliau lebih dicintai dibandingkan Umar bin Khattab, disebabkan beliau bersikap lembut dan selalu menjalin hubungan dengan mereka.
Tetapi sikap masyarakat mulai berubah setelah ia lebih mengutamakan kerabatnya dalam pemerintahan, kebijakan ini dilakukan Utsman atas dasar tali silaturahmi yang merupakan salah satu perintah dari Allah, dan lebih mudah mengaturnya. Kebijakan inilah yang menjadi sebab-musabab pembunuhan.
Tak lama kemudian Utsman meminta maaf akan kesalahannya dan bersumpah akan memperbaikinya, beliau berpidato kepada umat Islam atas kekhilafannya, dan akan memecat Marwan dan kerabatnya.
Awal perpecahan Umat Islam
Pada pemerintahan Utsman, lahirlah seorang penyebar fitnah bernama Abdullah bin Saba seorang yahudi kebangsaan Yaman. Dengan dalih mencintai Ali dan ahlu bait Rasulullah, ia berkata “Tidaklah Muhammad lebih baik dari pada Isa disisi Allah? Jika demikian halnya, maka Muhammad lebih berhak kembali kepada manusia dari pada Isa. Tapi Muhammad akan kembali kepada mereka dalam wujud diri anak pamannya, Ali, merupakan orang terdekat kepadanya.
Perannya ini amatlah berhasil dalam mengobarkan api fitnah, sehingga berangkatlah orang Mesir menuju Madinah untuk memberontak kepada Utsman. Dari Abdullah bin Saba ini lahirlah perpecahan umat Islam menjadi dua kubu : Sunni dan Syi’ah.
Awal Fitnah dan Pembunuhan serta wafat Utsman bin Affan
Penduduk Mesir mengadukan Sa'ad bin Abi Sahr, yang telah memerintah dengan semena-mena, kemudian Utsman menulis surat berisikan nasihat dan teguran, namun Ibn Abi Sahr mengambil tindakan keras kepada orang yang mengadukannya kepada khalifah. Para tokoh-tokoh Islam, Ali bin Abi Tholib, Thalhah dan Aisyah mengusulkan agar Utsman memecat Ibn Abi Sahr dan menggantikannya dengan Muhammad bin Abi Bakar.
Setelah itu Utsman menulis surat keputusan penggantian itu dan dibawa para sahabat ke Mesir, baru tiga hari perjalanan mereka bertemu dengan seseorang berkendaraan unta membawa sepucuk surat. Mereka bertanya kepadanya dan ia pun menjawab bahwa ia adalah pembantu Utsman tapi terkadang ia mengatakan ia adalah pembantu Marwan.
Surat itu dibaca disaksikan para sahabat yang berisi.Jika Muhammad beserta dua orang sahabatnya datang, maka bunuhlah mereka dan batalkan suratnya”. Akhirnya para sahabat itu kembali ke-Madinah dan menanyakan hal-ikhwal surat tersebut. Namun Utsman membantah dan bersumpah bahwa ia tidak pernah menulis, menyuruh dan menyetempel surat tersebut. Setelah diselidiki, ternyata surat itu ditulis oleh Marwan bin AI-Hakam. Mereka meminta Utsman agar menyerahkan Marwan, namun ia tak bersedia menyerahkannya.
Maka tersiarlah berita tersebut ke seluruh Madinah, sehingga masyarakat berdemo mengepung rumah Utsman, sampai tiba pada saat peristiwa terbunuhnya Utsman padahal di pintu rumahnya telah dijaga oleh Hasan dan Husain bin Ali. Khalifah Utsman dibunuh pada pertengahan hari Tasyriq tahun 35 H.
Ibrah yang dapat diambil dari perjalanan Utsman bin Affan
1. Keutamaan Utsman dalam memerintah adalah banyaknya negeri yang ditaklukan dan perluasan agama islam. Tercatat pula dalam sejarah Utsman memiliki prestasi yang amat mulia, seperti beliau menyatukan umat islam dalam bacaan dan tulisan Al Qur'an, serta merenovasi Masjid Nabawi.
2. Siasat Utsman dalam menjalankan roda pemerintahannya adalah dengan mengangkat kaum kerabatnya, dari sinilah muncul Abdullah bin Saba seorang Yahudi berasal dari Yaman. Ia menghasut orang Mesir untuk membangkang kepada Utsman. Perannya ini amatlah berhasil dalam mengobarkan api fitnah, sehingga berangkatlah orang Mesir menuju Madinah untuk memberontak kepada Utsman. Dari Abdullah bin Saba inilah lahirlah perpecahan umat Islam menjadi dua kubu : Sunni dan Syi'ah.
3. Walaupun Ali selalu memberikan usulan dan kritikan keras kepada Utsman dalam pemerintahan. Terlihat disanalah kerjasama diantara para sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Dan peran serta Ali dalam membangun kekuatan negara Islam.
0 Response to "Kisah Khalifah Utsman bin Affan (23 - 35 H)"
Post a Comment