Kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib (35 - 40 H)
Nama Lengkap : Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutholib bin Manaf.
Lahir : Sepuluh tahun sebelum nabi diutus menjadi Rasul.
Alasan diangkat : Menjadi khalifah setelah diangkat oleh kaum pemberontak. Menjabat khalifah selama tahun.
Wafat : Pada tahun 40 H. Dibunuh oleh Abdullah bin Muljam.
Setiap peperangan besar yang dilakukan Rasulullah semuanya diikutinya dengan gagah berani, serta disetiap peperangan besar beliau membawa dan memegang panji Islam, pandai dalam mengayunkan mata pedangnya.
Lahir : Sepuluh tahun sebelum nabi diutus menjadi Rasul.
Alasan diangkat : Menjadi khalifah setelah diangkat oleh kaum pemberontak. Menjabat khalifah selama tahun.
Wafat : Pada tahun 40 H. Dibunuh oleh Abdullah bin Muljam.
Riwayat Ali bin Abi Thalib
Beliau adalah anak pamannya Rasulullah SAW. Sejak kecil beliau hidup dan terdidik didalam keluarga Rasulullah SAW. Setelah ayahnya Abu Thalib wafat, ia diadopsi oleh Rasulullah. Sedikit pun mereka tidak pernah berpisah.
Ali bin Abi Thalib tidak pernah menyembah berhala semasa hidupnya, tempat sujudnya yang pertama baginya adalah di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, beliau dinamakan “Karromaallahuwajhahu”. Memeluk Islam dalam usia 10 tahun. Beliau adalah orang pertama yang memeluk agama Islam dari golongan anak-anak.
Rasulullah amat mencintai Ali sehingga Rasulullah pernah bersabda “Tak relakah engkau wahai Ali supaya kedudukanmu disisiku sebagaimana kedudukan Harun disisi Musa”. Hal itu dibuktikan dengan pernikahan Ali kepada Fathimah.
“Tidak ada pedang setajam ‘Pedang Dzufiqor’ dan tidak ada pemuda yang setangguh Ali bin Abi Thalib!” itulah yang didengungkan oleh umat Islam pada saat perang Uhud. Ketika perang Badar berlangsung, konon sepertiga korban dari pihak kafir Quraisy merupakan persembahan khusus dari Ali dan Hamzah bin Abdul Muthalib.
Kemudian pada saat perang merebut benteng Khaibar pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Umar belum berhasil merebut benteng tersebut, akan tetapi ketika pasukan itu dipimpin Ali, pasukan itu berhasil meraih kemenangan bagi kaum muslimin.
Abu Ishaq mengatakan ahlu Madinah yang pandai dalam hukum adalah Ali bin Abi Thalib. Abu Hurairoh mengatakan bahwa “Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling pandai menghukum diantara kami semua”.
Ali bin Abi Thalib adalah seorang muslim yang egaliter, toleran dan menghargai serta menghormati orang lain yang berbeda pendapat dengannya. Buktinya, ketika Umar bin Khattab menjabat sebagai Khalifah, ada seorang yahudi menuntut suatu perkara terhadap Ali. Akhirnya khalifah Umar menyelesaikan masalah itu dengan seadil-adilnya, dan perkara itu dimenangkan kepada orang yahudi. Ketika ditanya oleh Umar, Ali tidak merasa kecewa, sebaliknya ia amat bangga dengan keputusan Umar.
Di zaman khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman, Ali adalah penasehat khalifah yang terkenal dengan ahli dalam bidang hukum.
Diangkat Menjadi Khalifah
Seketika Utsman wafat terbunuh, diangkatlah Ali menggantikannya. Dalam pemerintahannya Ali tidak pernah melakukan kecurangan atau penyelewengan apapun, tak pernah beliau melakukan korupsi maupun makan uang rakyat yang terdapat di Baitul Maal. Namun beliau lebih memilih untuk berkerja atau menjual harta benda miliknya.
Siasat Ali bin Abi Thalib
Setelah diangkat dan dilantik menjadi khalifah, Ali memecat orang-orang yang diangkat oleh khalifah Utsman, melihat hal itu lbnu Abbas dan Al Mughiroh memberikan pendapat bahwa kebijakan yang demikian terlalu cepat dan tergesa-gesa serta bahayanya dikemudian hari. Tetapi Ali tidak memperdulikan pendapat tersebut.
Peristiwa pembunuhan Utsman dilakukan oleh pemberontak yang didalangi orang Yahudi, sehingga para pembunuh tersebut harus menanggung akibat tindakan kriminal tersebut dan tunduk di bawah hukum. Seluruh kaum Muslim dan khalifah Ali berusaha mengqishash para pembunuh Utsman, hanya saja. Ali meminta agar menunggu sebentar sampai segala urusan terselesaikan. Pendapat yang dimaksudkan Ali adalah beliau ingin mewujudkan pendahuluan yang bersifat dharuri, menjamin terlaksananya qishash, dan menjauhkan sebab-sebab timbulnya fitnah.
Perang Unta
Thalhah dan Zubair serta Aisyah datang bersama sejumlah sahabat ke Basrah, mereka berpendapat agar Ali dan kesemuanya melakukan ishlah dan segera menangkap para pembunuh dan melaksanakan qishash kepada mereka. Perdamaian dan kesepakatan ini tercapai sesuai dengan keinginan semuanya, setelah itu Ali berpidato tentang kesepakatan itu.
Tak lama setelah Ali beserta para sahabat berdamai, maka saat itu juga para gembong fitnah (di dalamnya terdapat 'Abdullah bin Saba') berkumpul untuk mengadakan propaganda, konspirasi itu membahas tentang bahaya perdamaian dan kesepakatan itu adalah ancaman yang besar bagi mereka. Sehingga mereka telah sepakat untuk mengobarkan peperangan di ujung malam dan menjebak orang-orang ke dalam perang tersebut. Api fitnah ini terus membara, sehingga terkumpullah di golongan sebanyak 20.000 orang, dan golongan Aisyah sebanyak 30.000 orang dan terjadilah perang diantara mereka. Sedangkan mereka tidak mengetahui ikhwal sebenarnya.
Perang itu dinamai perang unta, disebabkan Aisyah pada saat peperangan ini mengendarai unta. Peperangan ini diakhiri dengan damai diantara keduanya, akan tetapi meninggalkan kesedihan yang mendalam disebabkan dua sahabat Rasul yang mulia Thalhah dan Zubair telah terbunuh. Perang ini menjadi catatan hitam kaum muslimin sebab ini adalah perang sipil yang pertama dalam sejarah Islam.
Mu’awiyah dan Perang Shiffien dan Peristiwa Tahkim
Setelah peperangan tersebut, Ali kembali ke kuffah, dan segera mengutus Jurair bin Abdullah al-Bajli menghadap ke Mu'awiyah untuk mengajaknya bergabung bersama umat Islam. Tetapi Mu'awiyah menolak pembai'atan Ali sampai para pembunuh Utsman diketemukan.
Menanggapi hal ini Ali menyebut Mu'awiyah sebagai pemberontak dan keluar dari Jama'atul Muslimin. Ali mengerahkan pasukan, demikian Mu'awiyah ia pun mengerahkan pasukan. Kedua pasukan ini bertemu di Shifiien, dan sepakat mengadakan gencatan senjata dengan harapan tercapai ishlah.
Perang tersebut berlangsung selama 40 hari berakhir tanpa membuahkan hasil apapun, kecuali korban jiwa di pihak Ali sebanyak 25.000 orang, dipihak Mu'awiyah sebanyak 45.000 orang.
Mengetahui akan kekalahannya, Mu'awiyah beserta Amr mengajak Ali dan pasukannya mengadakan perjanjian perdamaian. Sebenarnya Ali tidak setuju akan hal tersebut, disebabkan ia yakin bahwa hal tersebut merupakan tipu daya Mu'awiyah. akan tetapi karena desakan pasukannya, Ali menuruti keinginan pasukannya.
Kemudian ia mengirim Abu Musa Al-Asy'ari sebagai duta dan jubirnya, Mu'awiyah mengirim Amr bin Al-Ash sebagai juru bicaranya. Mereka bertemu di Daumatul landai, kedua pihak setuju untuk mencopot Ali dan Mu'awiyah dan keduanya menyerahkan urusan ini kepada Syuro’ Muslimin.
Pada hari yang telah ditentukan, Amr bin AI-Ash mempersilahkan Abu Musa untuk menyampaikan pidatonya yang menyatakan ia mema'zulkan (mencopot) khalifah Ali bin Abi Thalib dari jabatannya.
Kemudian Amr bin Al-Ash maju untuk menyampaikan pidatonya. Dalam pidatonya ia menyampaikan bahwa Abu Musa telah mencopot Ali, akan tetapi sebaliknya Amr malah mengangkat Mu’awiyah sebagai khalifah. Peristiwa ini disebut peristiwa tahkim. Akibat peristiwa ini umat Islam merasa kecewa karena telah ditipu oleh Mu’awiyah dan Amr bin Al-Ash.
Karena kepincangan itu, timbullah peperangan kembali. Peperangan ini dilakukan oleh Mu’awiyah yang ingin menguasai seluruh negeri Islam, maka ia memerangi orang-orang yang menjadi wali-wali diangkat oleh Ali bin Abi Tholib. Pada peristiwa ini wafat lah Muhammad bin Abi Bakar.
Lahirnya kaum Khawrij dan terbunuhnya Ali bin Abi Thallib
Buah perdamaian di Daumatul Jandal adalah munculnya partai Khawarij, partai tersebut adalah kelompok pengikut Ali bin Abi Tholib yang keluar dari golongan tersebut, dikarenakan mereka merasa kecewa dengan keputusan Ali bin Abi Thallib yang bersedia melakukan perdamaian dengan Mu’awiyah.
Partai tersebut mengadakan perkumpulan untuk membunuh Ali, Mu’awiyah dan Amr bin Al-Ash. Ditetapkanlah tiga orang pembunuh tersebut :
- Ibnu Muljam bertugas membunuh Ali
- Al Barak bertugas untuk membunuh Mu’awiyah
- Umar bin Bakir bertugas membunuh Amr.
Pada tanggal 17 Ramadhan 40 H, Ibnu Muljam berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib dengan cara menikamkan pedangnya yang beracun di dalam Masjid Koufah, dikala Ali hendak melaksanakan sholat Shubuh.
Ibrah dari kehidupan Ali bin Abi Thalib
- Pada pemerintahan Ali terjadi perang sipil. Seperti Perang Unta, Perang Shiffien, perang ini timbul akibat fitnah-fitnah dari Abdullah bin Saba' yang melakukan konspirasi terprogram, dengan maksud mengacaukan barisan Islam. Jadi jelaslah bahwa peperangan ini merupakan tipu daya dari orang-orang yang tidak suka akan keberadaan Islam. Sehingga lahirlah beberapa partai dalam Islam, seperti Sunni, Syi'ah dan khawarij.
- Mereka kaum khawarij adalah orang Arab badui yang berwatak keras, melakukan tindakan-tindakan ekstrimisme dan mudah sekali terdorong untuk mengkafirkan sesama umat Islam. Ali adalah korban dari ekstrimisme tersebut.
- Ali bin Abi Thalib adalah seorang muslim yang egaliter, toleran dan menghargai serta menghormati orang lain yang berbeda pendapat dengannya. Bagaimana pun sejarah mencatat, Ali adalah seorang laki-laki yang gagah berani, tangkas, cerdas, dan dicintai Allah dan Rasulullah.
0 Response to "Kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib (35 - 40 H)"
Post a Comment