Kekhalifahan Umayyah Muawiyah bin Abu Sufyan (40 - 60 H)

Daulat Bani Umaiyah mengambil nama dari klan Umaiyah Bin Abdi Syam Bin Abdi manaf. Dia adalah salah seorang terkemuka di jaman suku Quraisy Jahiliyah. Ketinggian dan kemuliaannya dalam kaumnya menyamai Hasyim Bin Abdi Manaf, tidak mengherankan apabila antara keturunan Umaiyah dan Hasyim selalu berlomba-lomba dalam memperebutkan kekuasaan dikalangan kaum Quraisy Jahiliyah. Dan dalam perebutan itu kerap terjadi pertumpahan darah antara keluarga besar itu. Diantara keturunan Umaiyah yang termasyhur adalah Harb, Abu Sufyan, Mu'awiyah, Yazid. 
Kubah Batu di Kompleks Masjidil Aqsa yang dibangun Bani Ummayyah

Daulat Bani Umayah berdiri dari tahun 40 - 132 H. selama kurang lebih 92 tahun dengan 14 orang khalifah. Didirikan oleh Mu'awiyah Bin Abi Sufyan Bin Harb setelah menang dalam percaturan politik dengan Ali bin Abi Tholib.
Zaman keemasan Daulat Bani Umaiyah pada saat Khalifah Al Walid Bin Abdul Malik bin Marwan Bin Al-Hakam. Ia terkenal dengan sebutan Khalifah yang Pengasih dan Penyayang. 


MU’AWIYAH BIN ABI SUFYAN (40 - 60 H) 

Mu'awiyah Bin Abi Sufyan menjabat sebagai khalifah dengan tiga cara:
  1. Dengan pedangnya;
  2. Dengan siasatnya yang halus;
  3. Dan, dengan tipu muslihatnya yang licin. 

Dengan kata lain, Mu'awiyah menjabat sebagai khalifah bukan berdasarkan atas kehendak umum seperti yang pernah dijalankan oleh khalifah-khalifah (khulafa'ur rosyidin) sebelumnya. Hanya setelah menang percaturan Amru bin Ash pada saat mengikat perdamaian (peristiwa tahkim) dengan Abu Musa di Daumatul Jandal. maka sepakatlah orang Syam dengan pengangkatan itu. 
Kemudian setelah itu Ali Bin Abi Tholib meninggal dunia dibunuh oleh Ibnu Muljam dari golongan khawarij yang memang berencana untuk membunuhnya. Dan setelah itu dipindahkanlah kekhalifahan oleh ahli Iraq kepada Hasan bin Ali bin Abi Tholib, belum genap 6 bulan dipegangnya jabatan itu, Mu'awiyah mengajak Hasan untuk berdamai, yakni diserahkannya jabatan itu kepada Mu'awiyah dengan sebulat-bulatnya. Hasan menerima surat kosong kemudian menuliskan beberapa permintaan kepada Mu'awiyah, yang berisi: 
  1. Mu’awiyah tidak menaruh dendam pada seorang pun dari penduduk Iraq dan orang yang telah membai'at Hasan sebagai khalifah;
  2. Mu’awiyah menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka;
  3. Pajak tanah negara Ahwaj diperuntukan dan diberikan kepada Hasan; 
  4. Mu'awiyah membayar kepada Husain, dua juta dirham; 
  5. Pemberian kepada Bani Hasyim harus lebih banyak dari pada BaniAbd Syam. 

Setelah penyerahan itu maka teguhlah kedaulatan kekuasaan Mu'awiyah dan dirubahlah dasar pemilihan kekhalifahan yang berdasarkan Syuro, menjadi hak keturunan Mu'awiyah. Sehingga lebih layak dinamai raja dari pada khalifah. 
Karena Mu'awiyah pernah memerintah di Syam. daerah bekas jajahan Romawi, maka ia sangat terpengaruh oleh adat dan peraturan orang-orang Romawi (Byzantium). Sebagai contoh Ia menggunakan singgasana dan kursi kerajaan, dan membuat barisan pengawal untuk dirinya siang dan malam. Bahkan, untuk melaksanakan sholat, ia membuat tempat khusus yang selalu dijaga oleh pengawal. Hal ini dilakukan sebab ia takut kalau dirinya bernasib sama dengan Ali bin Abi Tholib. 

Pribadi Mu'awiyah 

Mu'awiyah adalah seorang ahli diplomat Arab yang termasyhur, seorang yang ahli dalam bidang pemerintahan. Tabi'atnya penyantun dan sabar menderita dari segala bencana dan celaan dalam mencapai cita-citanya. Dalam hal keagamaan pahamnya luas dan tidak fanatik dalam agama, ini dibuktikan dengan mengangkat salah satu menterinya yang bernama Sarjun dari agama Kristen, serta memperbaiki gereja yang telah rusak akibat gempa bumi di Iraq. 

Penaklukan di zaman Mu'awiyah 

Di sebelah timur tanah Arab, Mu'awiyah meluaskan daerah daulatnya sampai ke negeri Sind (di daerah sungai Indus, India). Samarkand dan Sughda. 

Perang melawan Byzantirn 

Angkatan perang Mu'awiyah dalam beberapa Pertempuran di Armenia dan di Asia kecil dapat Mengalahkan tentara Byzantium, sehingga pulau Cyprus dan Rhodus di Lautan Tengah dapat ditaklukan. 

Penyerangan ke Konstantinopel 

Pada tahun 48 H. Mu'awiyah mempersiapkan beberapa pasukan yang akan dikirim untuk menaklukan Konstatinopel, yakni pasukan darat yang dipimpin oleh Sufyan bin Auf. Dan pasukan laut yang dipimpin Fadhalah Al-Anshori. Dengan panglima besarnya Yazid bin Mu'awiyah, 

Angkatan perang ini masuk ke daerah Roma Timur dan mengepung Konstatinopel, akan tetapi mereka belum sanggup untuk menaklukan kota itu karena benteng bentengnya amat kuat, Akhirnya mereka kembali ke Syam. 

Dalam pertempuran itu, meninggal salah seorang sahabat Rosulullah SAW. Yakni Abu Ayyub; untuk mengenang sahabat yang mulia itu, maka didirikaniah sebuah mesjid yang bernama Mesjid Jami' Ayyub 

Kemudian pada tahun 58 H. Mu'awiyah kernbali mengirim pasukan untuk mengepung Konstatinopel, peperangan ini memakan waktu hampir 2 tahun lamanya. Akan tetapi, hampir saja pasukan ini merebut ibukota Byzantium, Mu'awiyah meninggal dunia, maka pasukan ini diperintahkan untuk kembali ke Syam. 

Perang Afrika 

Pada tahun 50 H. Mu 'awiyah mengirim pasukan yang dipimpin Uqbah bin Nafi’ untuk mengalahkan Negeri Afrika Pasukan itu berhasil baik, sehingga bangsa Barbar memeluk islam dan menjadi barisan pasukan Islam. Uqbah wafat di sana, untuk mengenangnya didirikan masjid yang bernama Sidi Uqbah (Masjid Nafi')

Baca Selanjutnya : Kekhalifahan Umayyah Yazib bin Mu'awiyah (60 - 63 H)

0 Response to "Kekhalifahan Umayyah Muawiyah bin Abu Sufyan (40 - 60 H)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel