Kekhalifahan Umayyah Yazib bin Mu'awiyah (60 - 63 H)
Pada tahun 56 H. Mu'awiyah mengangkat Yazid sebagai 'Waliyul Ahdi' (putera mahkota) yang akan menggantikan kedudukannya menjabat sebagai khalifah. Dengan berbagai alasan Mu'awiyah berhasil membuat orang-orang setuju dengan kehendaknya itu, terkecuali : Husain bin Ali, Abdullah bin Umar, Abdur Rahman bin Abi Bakar, dan Abdullah bin Zubair.
Yazid dididik oleh ibunya yang hidup menurut cara kehidupan badui, bersifat dusun dan berani, tetapi ia pandai bersya'ir serta fasih dalam bertutur kata.
Pemerintahan Yazid tidak disukai pembesar-pembesar sahabat
Yazid bukanlah seorang yang tepat untuk menjabat sebagai khalifah, karena tabi'atnya yang zalim, gemar mengikuti hawa nafsunya untuk melakukan perbuatan maksiat dan mabuk-mabukan. Terlebih ketika pasukan yang dikirimnya ke Mekkah untuk memerangi Abdullah bin Zubair meruntuhkan sebagian dinding Ka'bah, hal inilah yang menjadi sejarah catatan hitam selama-lama untuk Yazid bin Mu'awiyah.
Peristiwa Karbala
Setelah Mu'awiyah wafat, segolangan warga Iraq mengirimkan surat kepada Husain bin Ali yang menyatakan bahwa mereka akan membantu Husain apapun yang ia inginkan, asalkan ia mau datang ke Koufah. Membaca surat itu Husain terpedaya, ia lupa akan apa yang telah terjadi atas ayahhandanya dan saudaranya Hasan bin Ali. Berangkatlah ia menuju Koufah, akan tetapi ketika ia dan pengikutnya sampai di Karbala, bertemulah ia dengan pasukan musuhnya yang berlipat-lipat dipimpin oleh Ubaidillah bin Ziad.
Di saat itu barulah ia insaf bahwa ia tertipu, sebab tidak satupun dari penduduk Iraq yang membantunya, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang itu. Dalam pertempuran itu Husain terbunuh dengan kepala dipisahkan dari tubuhnya dan dibawa kehadapan Yazid bin Mu'awiyah.
Baca Selanjutnya : Kekhalifahan Umayyah Muawiyah bin Abu Sufyan (40 - 60 H)
Baca Selanjutnya : Kekhalifahan Umayyah Muawiyah bin Abu Sufyan (40 - 60 H)
Pemberontakan Hijaz
Berita Itu kemudian tersiar ke segala penjuru, kabar yang menggemparkan umat Islam, hati mereka diliputi oleh dendam yang membara. Maka bersatulah kelompok Syi'ah hendak menuntut balas atas kematian Husain, dan bertambah murkalah umat Islam kepada keluarga bani Umaiyah.
Setelah itu meletuslah pemberontakan dimana-mana, penduduk di Madinah berhasil mengusir wali yang diangkat oleh Bani Umaiyah, serta membunuh keturunan Bani Umaiyah yang dianggap bersalah maupun tidak.
Melihat pemberontakan itu, Yazid mengirimkan 12.000 tentara yang dipimpin Muslim bin Uqbah dan mengepung kota itu dari arah utara dan akhirnya penduduk Madinah menyerah dan Muslim memberikan keleluasan kepada tentaranya untuk melakukan sesuka-hatinya, seperti merampok, membunuh selama tiga hari tiga malam.
Kemudian pasukan itu berangkat menuju Makkah Al-Mukaromah untuk menumpas pasukan Abdullah bin Zubair yang telah mendakwakan dirinya menjadi khalifah, sebelum sampai di Makkah, Muslim meninggal dunia dan digantikan oleh Hasyim bin Numair, dalam pertempuran itu sebagian dinding Ka'bah runtuh akibat terkena majanik (alat pelontar batu). Pada saat peristiwa pertempuran itu berlangsung, datang kabar dari Syam yang menyatakan Yazid telah meninggal dunia. Oleh sebab itu lbnu Numair pun menghentikan peperangan. Seperti ayahnya Yazid sebelum wafat ia mengangkat anaknya Mu'awiyah bin Yazid menjadi 'Waliyyul Ahdi' (putera mahkota) yang akan menjadi kholifah sesudahnya.
Mu'awiyah bin Yazid (63 H)
Mu'awiyah bin Yazid hanya memerintah selama 40 hari saja, dikarenakan ia sakit-sakitan dan ia tak sanggup memikul tanggung jawab yang telah dibebankan dari ayahnya, yaitu kerusakan - kerusakan yang ditinggalkan ayahnya.
Maka turunlah ia dari jabatannya sebagai khalifah, dan menyerahkan pemilihan kekhalifahan kepada pemusyawaratan umat Islam, pada saat itu terjadilah perpecahan di kalangan umat Islam, bahkan di kalangan Bani Umaiyah sendiri. Kubu pertama memilih Khalid bin yazid yang masih kecil, dan sebagian kepada Marwan Al-Hakam, disebabkan marwan adalah orang yang tertua di kalangan keluarga Bani Umaiyah.
Maka turunlah ia dari jabatannya sebagai khalifah, dan menyerahkan pemilihan kekhalifahan kepada pemusyawaratan umat Islam, pada saat itu terjadilah perpecahan di kalangan umat Islam, bahkan di kalangan Bani Umaiyah sendiri. Kubu pertama memilih Khalid bin yazid yang masih kecil, dan sebagian kepada Marwan Al-Hakam, disebabkan marwan adalah orang yang tertua di kalangan keluarga Bani Umaiyah.
Selain itu, di Hijaz Abdullah Bin Zubair sudah semakin kuat kedudukannya menjadi khalifah sehingga umat Islam sebagian tertarik untuk ikut ke golongan itu.
Marwan bin Al-Hakam (63 - 64 H)
Marwan bin Al-Hakam menjabat sebagai khalifah hanya 9 bulan, akan tetapi dalam kedudukannya itu, huru-hara semakin menjadi-jadi, di Hijaz, Mesir dan Iraq. Berkat kesungguhan dan ketabahannya ini ia mampu meredam pemberontakan ini dan berhasil merebut Mesir dari tangan Abdullah bin Zubair.
Adapun usaha Marwan dalam tampuk kekhalifahan ini, hanya semata-mata mempertahankan kedudukannya saja, setalah itu ia meninggal dunia tetapi sebelumnya ia menunjuk Abdul Malik dan Abdul Azis sebagai Waliyul Ahdi (putera mahkota)
Adapun usaha Marwan dalam tampuk kekhalifahan ini, hanya semata-mata mempertahankan kedudukannya saja, setalah itu ia meninggal dunia tetapi sebelumnya ia menunjuk Abdul Malik dan Abdul Azis sebagai Waliyul Ahdi (putera mahkota)
0 Response to "Kekhalifahan Umayyah Yazib bin Mu'awiyah (60 - 63 H)"
Post a Comment