Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam (65 - 86 H)

Sesudah Marwan wafat, Abdul Malik diangkat menjadi khalifah, timbul kekacauan hampir menghancurkan Daulat Bani Umaiyah. Akan tetapi Abdul Malik adalah seorang yang pandai dalam strategi, ia adalah orang yang bijaksana, berhati baja. la termasuk salah satu khalifah terbesar jaman Bani Umaiyah, sehingga ia dikatakan sebagai Khalifah ke-dua pendiri daulat ini. 
Ketika ia menjabat sebagai khalifah seluruh negeri Islam kacau balau, Abdullah bin Zubair, kholifah di Hijaz semakin bertambah kuat, ditambah Iraq membai'atnya sebagai kholifah. 


Mula-mula hal yang dilakukan Abdul Malik adalah menundukan Iraq dan merebutnya dari tangan wali yang diangkat Abdullah bin Zubair. Setelah itu ditaklukannya pula Khurasan, negeri itu pun berhasil direbut. Tinggal negeri Hijaz saja yang menjadi kekuasaan Abdullah bin Zubair. 

Kesulitan-kesulitan yang Dihadapi Abdul Malik 

Ketika menjabat sebagai khalifah, Abdul Malik menghadapi berbagai macam kesulitan, di antaranya: 
  1. Menghadapi orang-orang Syi'ah
    Setelah peristiwa Karbala yang amat menyedihkan itu, maka orang-orang Syiah yang berada di Iraq menyesali kejadian itu, kemudian mereka menyebarkan api kebencian kepada keluarga Bani Umaiyah 
  2. Menghadapi Abdullah bin Zubair
    Untuk menghadapi Abdullah bin Zubair, Abdul Malik mengerahkan pasukan yang dipimpin oleh Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqofi. Setelah pasukan itu sampai di Makkah, dikepunglah negeri itu dan ditembakanlah peluru-peluru dengan manjanik (alat pelontar) sampai-sampai dinding Ka'bah terbakar karena lemparan tersebut.
    Karena kuatnya pasukan Hajjaj, maka pengikut-pengikut Abdullah bin Zubair banyak yang menyerahkan diri kepada pasukan Hajjaj. Akhirnya Abdullah bin Zubair berhasil dibunuh, kepalanya diserahkan kepada khalifah dan badannya disalib di dinding Ka'bah. 
  3. Menghadapi Kaum Khawarij
    Kaum Khawarij adalah kelompok Ali bin Abi Tholib yang keluar dan memisahkan diri dari kelompok itu disebabkan dari peristiwa tahkim yang dilaksanakan oleh Ali dan Mu'awiyah, mereka tidak puas dan tidak setuju dengan tindakan Ali yang mau berdamai dengan Mu'awiyah. Untuk urusan ini Abdul Malik mengirim Al Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi untuk membantu Mahlab bin Abi Sufrah membersihkan Irak dan Persia dari kelompok Khowarij.
  4. Menghadapi Amr bin Sa'id
    Amr adalah adalah salah satu keluarga Abdul Malik yang berkhianat. untuk menyelesaikan hal ini, Abdul Malik mengangkat Amr menjadi waliyul 'ahdi (putera mahkota) akan tetapi tak beberapa lama 'Amr dipanggil menghadap, pengangkatan itu dibatalkan dan 'Amru pun dibunuh, kepalanya dilemparkan ke pengiring-pengiringnya yang menunggu di bawah, melihat hal tersebut pasukan 'Amr pun berlarian

Perbaikan dan Pembangunan yang dibuat Abdul Malik

Setelah beberapa tahun Abdul Malik membersihkan Segala kekacauan yang terjadi di kerajaannya, maka kerajaannya menjadi damai kembali. Oleh orang-orang Abdul Malik dianggap sebagai pendiri Daulat Bani Umaiyah kedua.
Adapun usaha-usaha yang dilakukan Abdul Malik untuk memajukan kerajaannya adalah : 
  1. Memperbaiki Administrasi pemerintahan dan mendirikan pabrik uang
    Sebelum Abdul Malik memerintah, surat-menyurat untuk urusan pemerintahan dan lain-lain menggunakan bahasa Romawi dan Persia, diganti dengan menggunakan Bahasa Arab. Begitu juga dengan uang yang beredar di masyarakat sebelumnya menggunakan uang Romawi dan Persia, maka, pada saat Itu didirikanlah pabrik pembuatan uang, sehingga uang Romawi dan Persia diganti dengan menggunakan mata uang yang dibuat oleh Abdul Malik. Dimuka uang tersebut ditulis kalimat Laa Ilaha Illallah dan dibaliknya ditulis nama khalifah.
    Mata uang yang baru ini menghilangkan simbolisme Kristen dan Zoroastrian, dan memperkenalkan model koin emas dan perak yang bertuliskan huruf Arab sebagai simbol kedaulatan, kemerdekaan dan kesamaan kedudukan dengan beberapa imperium terdahulu. 
  2. Memperbaiki Pos-pos Pengawasan
    Sebelumnya perjalanan pos sudah berjalan dengan baik. maka pada jaman 'Abdul Malik disempurnakan. Pada tiap-tiap tempat didirikan pos ,yang tugasnya mengawasi para pembesar kerajaan dan para wali yang ditunjuk oleh khalifah, serta melaporkan segala hal yang terjadi didaerah kerajaan kepada khalifah.
  3. Mengadakan Mahkamah Tinggi
    Untuk memeriksa dan mengadili para pembesar kerajaan serta wali-wali yang diangkatnya Abdul malik mendirikan mahkamah tinggi, hal ini dimaksudkan agar para petinggi kerajaan tidak sewenang-wenang dalarn berbuat dan tidak berbuat sekehendak hatinya saja yang bisa membuat orang lain tertindas.
    Hakim yang mengepalai dan mengurusi hal ini adalah seorang yang ternama dan betul-betul paham akan hukum-hukum Islam, jadi siapa saja yang merasa tertindas dapat mengadukan hal tersebut kepada mahkamah tersebut.
  4. Mendirikan bangunan yang indah-indah
    Pada saat berkuasa Abdul malik memperindah kota dengan mendirikan bangunan-bangunan yang indah, serta tidak lupa mendirikan Daarus Sina'ah (Pabrik Industri) di Tunisia, dari sanalah dibuat persenjataan-persenjataan dan tempat pembuatan kapal-kapal perang. Dan pada masa pemerintahannya Yerusalem ditunjuk sebagai kota suci umat Islam dan membangun Masjid Kubbah Batu (The Dome of Rock) 

Wafat Abdul Malik 

Pada saat usianya menginjak 60 tahun Abdul malik wafat, ia menjadi khalifah selama 21 tahun, selama 8 tahun digunakan untuk memperbaiki dan memberantas seluruh huru-hara yang terjadi dalam kerajaan. Dan sisanya digunakan untuk memperbaiki seluruh fasilitas kerajaan dan membangun serta memperindah kerajaan.
Sebelum wafat Abdul Malik memberikan wasiat, dengan menunjuk dua orang putera mahkota Al Walid dan Sulaiman, sebenarnya yang menggantikan Abdul Malik adalah Abdul Aziz namun ia  wafat terlebih dahulu.
Beberapa ahli sejarah menyebut Abdul Malik dengan sebutan Abul Muluk sebab empat orang anaknya Al Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam menjadi kholifah.

0 Response to "Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam (65 - 86 H)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel